PENDIDIKAN
SEBAGAI SISTEM
MAKALAH
DIAJUKAN GUNA MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH:
ILMU PENDIDIKAN
DOSEN
PENGAMPU : Dr.Ahsan Hasbullah,M.Pd
DISUSUN OLEH:
1.
Adelia Eka Nur Afifah (1817405002)
2.
Ahmad Aziz Fauzi (1817405005)
3.
Ainuni Ulin Na’mah (1817405007)
4.
Cholifatun A’malu Sholihah (1817405010)
5.
Ida Lailatul Fitriani (1817405018)
6.
Ina Latussangadah
(1817405022)
7.
Maretanisa Windansa Putri (1817405029)
8.
Qori Nurul ‘Aeni
(1817405036)
1
PGMI A
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI PURWOKERTO
2018/2019
KATA
PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan ke
Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya
sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik, dan tepat pada waktunya.
Dalam makalah ini kami membahas mengenai “Pendidikan Sebagai Sistem”.
Makalah ini dibuat dengan berbagai
observasi dan bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan
tantangan dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu kami
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyususan makalah ini.
Kami menyadari dalam membuat makalah
ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu
pembaca untuk memberikan saran dan kritik bila ada kesalahan
Akhir kata semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi kita semua.
Purwokerto, Oktober 2018
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem
dapat diartikan sebagai seperangkat komponen atau unsur yang saling berintgrasi
untuk mencapai tujuan. sebagai suatu sistem, pendidikan adalah suatu
keseluruhan karya ini yang terbentuk dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan
fungsional dalam membantu terjadinya proses transformasi atau perubahan tingkah
laku seseorang sehingga mencapai kualitas hidup yang diharapkan. Keberadaan
sistem sebenarnya merupakan sesuau yang bersifat alamiah dan bersifat kodrat. Sistem
memiliki bagian atau komponen, yang sering disebut dengan istilah sub-sistem
keberadaan sistem merupakan satu kesatuan yang utuh.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas maka timbul beberapa permasalahan yang akan kami bahas
dalam makalah ini, meliputi:
1. Apa Definisi Sistem ?
2. Apa Definisi Pendidikan sebagai suatu
sistem ?
3. Apa saja Komponen Sistem ?
4. Apa pengertian Proses Pendidikan?
5. Apa macam-macam pendidikan sebagai
sistem ?
C.
Tujuan
1 .Untuk mengetahui
definisi sistem.
2. Untuk mengetahui
definisi pendidikan sebgai sistem.
3. Untuk mengetahui
komponen sistem.
4. Untuk mengetahui
proses pendidikan.
5. Untuk mengetahui
macam-macam pendidikan sebagai sistem.
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
PENGERTIAN
SISTEM
Sistem
dapat diartikan sebagai seperangkat komponen atau unsur yang saling
berintegrasi untuk mencapai tujuan. Tatang M. Amirin memberikan
pengertian sistem sebagai berikut:
a) Sistem adalah suatu kebulatan
keseluruhan yang kompleks atau terorganisir, suatu himpunan atau perpaduan
hal-hal yang membentuk suatu kebulatan.
b) Sistem merupakan himpunan komponen yang
saling berkaitan bersama-sama yang berfungsi untuk mencapai suatu tujuan.
c) Sistem merupakan kehimpunan komponen
atau sub-sistem yang terorganisasikan dan berkaitan sesuai dengan rencana untuk
mencapai tujuan tertentu.
Istilah sistem sering di samaartikan
dengan kata sistim. Kata sistim dalam pengertian awam memiliki
makna: cara, kiat, metode, strategi, taktik, dan siasat. Kata sistem ini
berasal dari bahasa Yunani yang artinya berdiri bersama (stand together).
Sistem adalah sekumpulan benda yang memiliki hubungan di antara mereka (A
system is a collection of things which have relationships among them). Sistem
adalah suatu kelompok unsur yang saling berinteraksi, saling terkait atau
ketergantungan satu sama lain yang membentuk satu keseluruhan yang kompleks (A
group of interacting, interreladed or interdependent elements forming a complex
whole). Dari pengertian-pengertian tersebut maka memunculkan kata
keseluruhan (wholeness), kesatuan (unity), dan keterkaitan (correlated).
Menurut Aristoteles,”The whole is more than the sum of its parts” yang
artinya adalah bahwa keseluruhan itu tidak sekedar penjumlahan dari
bagian-bagiannya.[1]
2.
PENDIDIKAN
SEBAGAI SUATU SISTEM
Sebagai
suatu sistem, pendidikan adalah suatu keseluruhan karya insani yang terbentuk
dari bagian bagian yang mempunyai hubungan fungsional dalam membantu terjadinya
proses transformasi atau perubahan tingkah laku seseorang sehingga mencapai
kualitas hidup yang di harapkan. Pendidikan suatu sistem sosial, merupakan
sistem terbuka yang dibataskan sebagai sistem yang memperoleh masukan dari
lingkungan dan memberikan hasil transformasinya pada lingkungan.
3. KOMPONEN-KOMPONEN SISTEM PENDIDIKAN
Komponen
sistem pendidikan meliputi:
a) Tujuan dan prioritas yang berfungsi
memandu kegiatan-kegiatan sistem pendidikan.
b) Pelajar atau peserta berfungsi dalam
proses perubahan kualitas tingkah laku seperti yang di harapkan oleh sistem
pendidikan.
c) Manajemen yang berfungsi untuk
merencanakan, mengkoordinasi, mengarahkan, dan menilai sistem pendidikan.
4.
PENGERTIAN
PROSES PENDIDIKAN
Proses pendidikan merupakan proses
transformasi atau perubahan kemampuan potensial individu peserta didik menjadi
kemampuan nyata untuk meningkatkan taraf hidupnya lahir dan batin. Terdapat dua
arah dari upaya proses pendidikan yaitu menjaga kelangsungan hidupnya dan
menghasilkan sesuatu. Aspek yang lain dari sistem pendidikan adalah keluaran
yang disebut hasil pendidikan. Hasil pendidikan adalah lulusan yang sudah
terdidik berdasarkan atau mengacu pada tujuan pendidikan yang telah ditentukan.
Hasil pendidikan merupakan hasil indikator efektifitas dan efisiensi proses
pendidikan dalam sisitem pendidikan.[2]
5.
PENDIDIKAN
FORAL, NON FORMAL, DAN INFORMAL SEBAGAI SEBUAH SISTEM[3]
Pendidikan
persekolahan yang kita kenal dengan pendidikan formal, pendidikan non formal
sebagai mitra pendidikan merupakan
sebuah sistem. Pendidikan formal mulai dari sekolah dasar sampai perguruan
tinggi merupakan jenjang pendidikan yang telah baku. Selanjutnya, pendidikan
non formal menampung dan melayani warga negara yang tidak sempat ikut atau
menyelesaikan pendidikan. Pendidikan informal merupakan suatu aset pendidikan
yang berada di samping dan di dalam pendidikan formal dan non formal. Pendidikan
formal, non formal, dan informal memang dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan.
Karena keberhasilan pedidikan dalam pengertian output pendidikan yang berupa
sumber daya manusia mutunya tidak dapat dilepaskan dari peran sub-sistem
pendidikan.
6.
|
Kehidupan
|
|
Bagian
Kehidupan
|
|
Bagian
Kehidupan
|
|
Bagian
Kecil Kehidupan
|
|
Bagian
Kecil Kehidupan
|
|
Bagian
Kecil Kehidupan
|
|
Bagian
Kecil Kehidupan
|
|
Komponen
Bagian Kecil Kehidupan
|
|
Komponen
Bagian Kecil Kehidupan
|
Sistem
yang merupakan kesatuan yang lengkap dan bulat dengan komponen-komponen di
dalamnya yang saling terkait secara dinamis, sinergis, dan harmonis tersebut
selalu berupaya menemukan kestabilan (immobility). Sistem selalu memilih
gerakan-gerakan paling minimal, paling kurang beresiko, dan paling aman agar
kemapanan sistem tetap terpelihara. Sistem baru terpaksa bergerak cepat bila ia
terganggu atau diganggu dan menimbulkan frustasi atau sakit luar biasa pada
sang sistem. Akan tetapi gerak cepat yang dilakukan tersebut tetap saja demi
menciptakan kestabilan (immobility). Oleh karena itu, gerak sistem pada
umumnya dikesankan bersifat lambat ketika menghadapi perubahan-perubahan baik
internal maupun eksternal. Hanya sistem yang mampu melakukan gerakan adaptif
terhadap perubahan-perubahan tersebut itulah yang paling tetap bisa menjaga
eksistensinya secara berkelanjutan.
Sistem
perlu melakukan tindakan adaptasi agar tetap bisa berkelanjutan eksistensinya.
Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Mochtar Buchori (Dirto Hadisusanto,
Suryati Sisharto, dan Dwi Siswo, 1995) bahwa suatu sistem perlu dilengkapi
dengan tiga buah kemampuan, yakni sebagai berikut:
1.
Mengetahui
pola-pola perubahan yang ada.
2. Menyusun gambar tentang dampak yang
ditimbulkan akibat dari perubahan-perubahan yang akan terjadi.
3. Menyusun program penyasuaian terhadap
pola perubahan dan dampak yang akan terjadi.
Menurut ahli Manajemen kabangsaan
Jerman yang bernama Klau Nowak, teori tentang sistem memiliki tiga generasi
dalam perkembangannya. Generasi pertama, sistem dipahami
sebagai sekedar keseluruhan dan bagian (the
whole and part). Teori ini merupakan teori sistem yang paling tua. Pada
waktu itu, teori ini cukup membantu dalam memahami kajadian-kajadian yang ada
di alam semesta dan juga organisasi.
Generasi kedua, sistem dipahami
sekedar kaitan antara sistem itu sendiri dengan lingkungan (system and
enviroment). Pada era ini, lingkungan dipahami dapat mempengaruhi
sistem. Perubahan yang terjadi pada
lingkungan pada akhirnya juga mendorong perubahan pada sistem. Hal ini berbeda
dengan pada era generasi pertama yang hanya menfokuskan kondisi internal
sistem. [4]
Oleh
karenanya, pada generasi kedua ini muncul istilah inside system dan outside
system atau sistem dalam dan sistem luar yang keduanya terdapat semacam invisible
border. Pada era ini muncul istilah input, process, dan output. Masing-masing
bisa mengalami aneka problem, yakni input problems, process problems, dan juga
output problems. Problem input terjadi karena sistem harus bekerja keras
menyaring banyak informasi dari luar. Ini yang kemudian melahirkan apa yang
disebut complexity. Problem proses terjadi kerena kompleksnya faktor
yang terlibat dalam diproses dan banyaknya alternatif efisiensi proses. Program
output terjadi karena sulitnya melakukan
pengambilan keputusan dalam hal antisipasi peluang dan kebutuhan. Salah satu
uangkapan untuk menggambarkan situasi ini adalah “more options to reactions
and to apply”. Inilah yang kemudian melahirkan apa yang disebut contingency.[5]
Generasi ketiga, sistem dipahami
sebagai idetity and diference. Teori ini menyatakan bahwa sisten
itu tidaklah pasif melainkan pro aktif pada lingkungan. Sistem berusaha
mengembangkan suatu identity tertentu yang membedakannya dengan sistem yang
lain. Sistem harus tahu dirinya mengapa dirinya ada, bagaimana seharusnya ia
ada, dan sebagainya sebagai upaya pengembangan identitas diri suatu sistem.
Secara umum menurut Klaus Noak ada tiga macam tipe sistem yang ada di dunia ini
yaitu Pertama, biological sistem syskm fungsinya untuk mempertahankan
kelangsungan hidup supaya tetap sufifal. Kedua, psyhological system, fungsinya
mencari dan menemukan makna keberadaan sistem dalam arti mencari dan menemukan
mengapa sistem ini ada. Ketiga, social sistem fungsinya meneguhkan makna akan
keberadaan sistem misalnya mengembangkan visi, misi, tujuan dari sistem.
Ada empat kategori dalam cangkupan
unik kehidupan sistemik yaitu kategori kehidupan, kategori bagian-bagian
kehidupan, kategori bagian kecil kehidupan, dan kategori komponen kecil
kehidupan. Sifat sistem adalah selalu berupaya menemukan stabilan, selalu
memilih gerakan-gerakan paling minimal atau paling sedikit resiko agar
kemampuannya tetep terpelihara. Suatu sistem perlu dilengkapi dengan tiga buah
kemampuan yaitu mengetahui pola-pola perubahan, menyusun gambar tentang dampak
yang ditimbulkan akibat dari perubahan yang akan terjadi dan penyusun program
penyesuaian terhadap pola perubahan dan dampak yang akan terjadi. Setiap sistem
memiliki cara kerja yang bersifat tetap yaitu standar proses dan standar
tindakan dari masing-masing komponen yang selalu berhubungan satu sama lain.
Dalam pernyataan dewasa ini
pendidikan sebagai suatu sistem menghadapi banyak tantangan akibat adanya
perubahan sosial budaya yang dipicu oleh kemajuan teknologi. Setiap bangsa yang
ingin mempertahankan dan mengembangkan eksistensinya.[6]
BAB III
PENUTUPAN
Sistem
adalah suatu kelompok unsur yang saling berinteraksi, saling terkait atau
ketergantungan satu sama lain yang membentuk satu keseluruhan yang kompleks (A
group of interacting, interreladed or interdependent elements forming a complex
whole).
Sebagai suatu sistem,pendidikan
adalah suatu keseluruhan karya insani yang terbentuk dari bagian bagian yang
mempunyai hubungan fungsional dalam membantu terjadinya proses transformasi
atau perubahan tingkah laku seseorang sehingga mencapai kualitas hidup yang di
harapkan.
Komponen sistem
pendidikan meliputi:
-
Tujuan
dan prioritas yang berfungsi memandu kegiatan-kegiatan sistem pendidikan.
-
Pelajar
atau peserta berfungsi dalam proses perubahan kualitas tingkah laku seperti
yang di harapkan oleh sistem pendidikan.
-
Manajemen
yang berfungsi untuk merencanakan, mengkoordinasi, mengarahkan, dan menilai
sistem pendidikan.
DAFTAR
PUSTAKA
Uno Hamzah, Lamatenggono Nina.. 2013. Landasan Pendidikan.
Jakarta: PT Bumi
Aksara.
[1] Hamzah B Uno, Nina Lamatenggono, Landasan Pendidikan (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2013), Hlm. 75
[2] Hamzah B Uno, Nina Lamatenggono, Landasan Pendidikan (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2013), Hlm.36-37
[3] Hamzah B Uno, Nina Lamatenggono, Landasan Pendidikan (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2013), Hlm.78
[4] Hamzah B Uno, Nina Lamatenggono, Landasan Pendidikan (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2013), Hlm.79
[5] Hamzah B Uno, Nina Lamatenggono, Landasan Pendidikan (Jakarta:
PT Bumi Aksara,2013), Hlm.80
[6] Hamzah B Uno, Nina Lamatenggono, Landasan Pendidikan (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2013), Hlm.82
Tidak ada komentar:
Posting Komentar