Menengok Filsafat
Apakah itu filsafat? Pertanyaan ini
singkat dan terlihat sederhana. Tetapi tidak mudah untuk memberikan jawaban
dari pertanyaan “apakah filsafat itu?”. Yang terbesit dalam pikiran kita ketika
mendengar filsafat, pertama teringat nama tokoh (filosof) seperti
Socrates, Aristoteles dan Plato. Yang ketika mendengar nama-nama filsosof
tersebut akan mengaitkan dengan filsafat. Kedua filsafat sebagai ilmu
yang sulit, susah dipahami, ribet, dan melangit. Namun, definisi tersebut tampaknya
akan memperumit diri sendiri untuk mendalami filsafat, apalagi bagi mereka yang
baru tertarik dengan kata “filasafat”. Maka dari itu, perlu kita merubah
mindset kita bahwa filsafat adalah sesuatu yang asyik, menarik, menyenangkan
dan menantang.
Dalam pengertian yang sering penulis
dengar dari pegiat filsafat maupun sebagian besar buku pengantar filsafat
adalah dengan memberikan definisi filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu “philo”
dan “sophia” yang berarti “cinta kebijaksanaan”. Dalam hemat
pemahaman penulis, filsafat adalah sebagai jalan mencari kebenaran-kebenaran
dengan berbagai metode yang muaranya pada cinta dan kebijaksanaan.
Definisi yang lebih presisi lagi,
filsafat pada hakikatnya adalah suatu aktivitas: satu jalan berpikir yang
menuntut kejernihan, kedalaman, dan keluasan. Karakter utama filsafat
adalah berpikir secara logis dengan dua melakukan aktivitas. (1) mengajukan
argumentasi, baik untuk menemukan, menyusun atau mengkritisi suatu kebenaran,
serta (2) menganalisis dan menegaskan kejelasan suatu konsep. (Fahruddin Faiz,
2018: xiii)
Kata “filsafat” juga sering
digunakan secara meluas dalam pengertian ‘pandangan dunia seseorang’ atau
‘prinsip-prinsip ideal yang digunakan seseorang memandu hidupnya’. Pengertian
tersebut mengasumsikan bahwa setiap orang memiliki seperangkat prinsip ideal
yang digunakan sebagai poros dalam berpikir, bertutur, dan berperilaku. Di
sinilah kemudian berlaku pepatah: setiap orang adalah filosof. (Fahruddin
Faiz, 2018: xiii)
Filsafat
tidak memberikan petunjuk-petunjuk untuk mencapai taraf hidup yang lebih
tinggi, juga tidak melukiskan teknik- teknik baru untuk membuat teknologi baru.
Sebenarnya jika di dalam filsafat kita mencari jawaban yang terakhir
terhadap persoalan yang kita hadapi, jawaban yang disepakati oleh semua
filososf hal yang benar, maka kita akan kecewa seraya bersedih hati.
Setelah lama mempelajarinya, kita dapat mulai menyusun sistem filsafat yang di
dalamnya kita dapat menempatkan persoalan-persoalan yag kita hadapi dan
memberikan jawaban-jawaban yang sekiranya tepat. Dengan demikian, kita menjadi
terbiasa mengadakan penalaran-penalaran secara tetap, dan memurnikan secara
tetap pula, sehingga kita akan siap mendapati bahwa penyelesaian kita sering
tidak memadai serta bersifat se mentara dan tidak diterima oleh banyak orang.
(Louis O. Kattsoff, 1996: 3) Dari hal tersebut kita belajar berdialektika dan
mencari kebenaran-kebenaran yang sifatnya dinamis dengan menjadikan proses
sebagai landasan motivasi.
Tujuan filsafat ialah mengumpulkan
pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan
ini, menemukan hakekatnya, dan menerbitkan serta mengatur semuanya itu di dalam
bentuk yang sitematis. Filsafat membawa kita kepada tindakan yang lebih layak.
(Louis O. Kattsoff, 1996: 3)
Berikut akan penulis berikan
gambaran dengan sebuah kisah klasik dari seorang filosof yunani, pada tahun 399
SM, Socrates di hukum mati atas tuduhan merusak jiwa kaum muda di Athena. Ia harus
mati dengan minum racun pada suatu hari tertentu. Tetapi socrates mempunyai
banyak teman yang mau membebaskannya dari penjara dengan alasan socrates sebenarnya
tidak bersalah. Mereka bersedia membantunya melarikan diri dan bersedia menyuap
pengawal penjara.
Bagi manusia praktis pastilah berkeinginan untuk meninggalkan
penjara secepat mungkin. Tetapi tidak demikian halnya dengan Socrates kepada
kawan-kawan ia berkatasebelum ia menerima tawaran mereka, perlu ditentukan
terlebih dahulu apakah perbuatan melarikan diri itu layak baginy. Nah inlah
ucapn filosof. Ia duduk dengan teman-temannya membicarakan masalah itu. Secara
hati-hati diajukan alasan-alasan bagi pelarian dirinya. Dengan sikap hati-hati
yang sama, Socrates meneliti alasan-alasan tersebut dan mengajukan
alasan-alasan yang lain yang tidak menyetujui ia melarikan diri.
Akhirnya, teman-temannya sepakat
bahwa tidaklah tepat bagi Socrates untuk melarikan diri. Pada saat itulah
pembicaraan kefisaatan berakhir, Socrates bertindak. Tindakan didasarkan atas
pemikirannya, tetapi tindakan itu tidak merupakan bagian pemikiran tersebut,
Socrates tetap tinggal di penjara, dan iapun akhirnya minum racun ! (Louis O.
Kattsoff, 1996: 4)
Kisah diatas merupakan contoh
berfilsafat, yaitu ketika Socrates mendayagunakan akalnya untuk berfikir secara
jernih, mendalam, dan luas. Berani mengajukan argumentasi, menganalisis dan
mengkritisi kebenaran. Dalam mencari kebenaran Socrates berani meragukan segala
sesuatu, mengajukan pertanyaan, mencari jawaban yang lebih baik dari pandangan
pertama yang diajukan oleh teman-temannya. Walaupun sebenarnya dirinya itu
tidak seharusnya di hukum. Dengan kegiatan kefilsafatan yaitu melalui pemikiran
dan permenungan Socrates mendapatkan suatu kebijaksanaan.
Salah satu karakter paling menonjol
dari para filosof yang menjadi ciri kajian filsafat kesediaan mereka untuk
menguji dan mengkritisi kepercayaan, kebenaran dan nilai-nilai yang oleh orang
lain diterima begitu saja sebagai yang pasti benar. Mereka tidak ragu menguji
dasar dan argumentasi dari kepercayaan mereka, baik dalam ranah sosial, budaya,
politik maupun, agama. (Fahruddin Faiz, 2018: xiii) Jalan yang diambil oleh
para filosof mendobrak kenyamanan untuk memperoleh kebenaran yang bersifat
dinamis.
Filsafat dikenal sebagai kajian
terhadap problem-problem dasar dan umum, seperti realitas, eksistensi,
pengetahuan, nilai, akal, pikiran, bahasa, dan sebagaimya. Pembeda filsafat
dengan disiplin lain adalah cara filsafat dalam mendekati problem-problemnya
melalui jalur kritis, sistematis, dan berlandaskan argumen-argumen rasional. Pengembaraan
intelektual yang dipromosikan filsafat itu bersifat membebaskan, menghindarkan
seseorang dari prasangka, ketertipuan, kekeliruan, dan sebagainya. (Fahruddin
Faiz, 2018: 4)
Lalu kesimpulannya, apa itu
filsafat? Sekedar kajian kritis dan rasional saja? Mohammad Hatta, dalam
bukunya Alam Pikiran Yunani,
mengemukakan bahwa pengertian filsafat itu tidak usah dibicarakan karena
apabila seseorang telah banyak membaca atau mempelajari filsafat, orang itu
dengan sendirinya akan mengerti apa yang dimaksud dengan filsafat. Masih
menurut Hatta, lebih mudah untuk menyebut karakter berpikir filososfis daripada
dibingungkan oleh definisi filsafat yang dirumuskan berbeda-beda oleh para
filosof. Karakter yang dimaksud adalah merentangkan pikiran hingga
sejauh-jauhnya tentang suatu keadaan atau hal yang nyata. (Fahruddin Faiz,
2018: 5)
Fahruddin
Faiz, dalam bukunya Sebelum Filsafat, juga
mengemukakan bahwa, siapapun yang berfilsafat akan melakukan refleksi rasional
dan radikal terhadap hidup dan kehidupannya. Ia pasti akan memahami apa itu
filsafat dan apa yang dimaksud dengan kata “filsafat”, meskipun tanpa harus
merumuskannya dalam rentetan kata-kata. Berpikir,
berrefleksi, dan merenunglah! Pahami hidupmu dan ujilah pengetahuan serta
keyakinanmu! Maka, kamu akan mengerti apa itu “filsafat” karena sebenarnya
aktivitas-aktivitas itulah yang disebut sebagai “berfilsafat”. (Fahruddin
Faiz, 2018: 5).
Penulis : Fajar Afwan
Penulis : Fajar Afwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar