Kamis, 31 Januari 2019

Menengok Filsafat


Menengok Filsafat

            Apakah itu filsafat? Pertanyaan ini singkat dan terlihat sederhana. Tetapi tidak mudah untuk memberikan jawaban dari pertanyaan “apakah filsafat itu?”. Yang terbesit dalam pikiran kita ketika mendengar filsafat, pertama teringat nama tokoh (filosof) seperti Socrates, Aristoteles dan Plato. Yang ketika mendengar nama-nama filsosof tersebut akan mengaitkan dengan filsafat. Kedua filsafat sebagai ilmu yang sulit, susah dipahami, ribet, dan melangit. Namun, definisi tersebut tampaknya akan memperumit diri sendiri untuk mendalami filsafat, apalagi bagi mereka yang baru tertarik dengan kata “filasafat”. Maka dari itu, perlu kita merubah mindset kita bahwa filsafat adalah sesuatu yang asyik, menarik, menyenangkan dan menantang.
            Dalam pengertian yang sering penulis dengar dari pegiat filsafat maupun sebagian besar buku pengantar filsafat adalah dengan memberikan definisi filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu “philo” dan “sophia” yang berarti “cinta kebijaksanaan”. Dalam hemat pemahaman penulis, filsafat adalah sebagai jalan mencari kebenaran-kebenaran dengan berbagai metode yang muaranya pada cinta dan kebijaksanaan.
            Definisi yang lebih presisi lagi, filsafat pada hakikatnya adalah suatu aktivitas: satu jalan berpikir yang menuntut kejernihan, kedalaman, dan keluasan. Karakter utama filsafat adalah berpikir secara logis dengan dua melakukan aktivitas. (1) mengajukan argumentasi, baik untuk menemukan, menyusun atau mengkritisi suatu kebenaran, serta (2) menganalisis dan menegaskan kejelasan suatu konsep. (Fahruddin Faiz, 2018: xiii)
            Kata “filsafat” juga sering digunakan secara meluas dalam pengertian ‘pandangan dunia seseorang’ atau ‘prinsip-prinsip ideal yang digunakan seseorang memandu hidupnya’. Pengertian tersebut mengasumsikan bahwa setiap orang memiliki seperangkat prinsip ideal yang digunakan sebagai poros dalam berpikir, bertutur, dan berperilaku. Di sinilah kemudian berlaku pepatah: setiap orang adalah filosof. (Fahruddin Faiz, 2018: xiii)
            Filsafat tidak memberikan petunjuk-petunjuk untuk mencapai taraf hidup yang lebih tinggi, juga tidak melukiskan teknik- teknik baru untuk membuat teknologi baru. Sebenarnya jika di dalam filsafat kita mencari jawaban yang terakhir terhadap persoalan yang kita hadapi, jawaban yang disepakati oleh semua filososf hal yang benar, maka kita akan kecewa seraya bersedih hati. Setelah lama mempelajarinya, kita dapat mulai menyusun sistem filsafat yang di dalamnya kita dapat menempatkan persoalan-persoalan yag kita hadapi dan memberikan jawaban-jawaban yang sekiranya tepat. Dengan demikian, kita menjadi terbiasa mengadakan penalaran-penalaran secara tetap, dan memurnikan secara tetap pula, sehingga kita akan siap mendapati bahwa penyelesaian kita sering tidak memadai serta bersifat se mentara dan tidak diterima oleh banyak orang. (Louis O. Kattsoff, 1996: 3) Dari hal tersebut kita belajar berdialektika dan mencari kebenaran-kebenaran yang sifatnya dinamis dengan menjadikan proses sebagai landasan motivasi.
            Tujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan ini, menemukan hakekatnya, dan menerbitkan serta mengatur semuanya itu di dalam bentuk yang sitematis. Filsafat membawa kita kepada tindakan yang lebih layak. (Louis O. Kattsoff, 1996: 3)
            Berikut akan penulis berikan gambaran dengan sebuah kisah klasik dari seorang filosof yunani, pada tahun 399 SM, Socrates di hukum mati atas tuduhan merusak jiwa kaum muda di Athena. Ia harus mati dengan minum racun pada suatu hari tertentu. Tetapi socrates mempunyai banyak teman yang mau membebaskannya dari penjara dengan alasan socrates sebenarnya tidak bersalah. Mereka bersedia membantunya melarikan diri dan bersedia menyuap pengawal penjara.
            Bagi manusia  praktis  pastilah berkeinginan untuk meninggalkan penjara secepat mungkin. Tetapi tidak demikian halnya dengan Socrates kepada kawan-kawan ia berkatasebelum ia menerima tawaran mereka, perlu ditentukan terlebih dahulu apakah perbuatan melarikan diri itu layak baginy. Nah inlah ucapn filosof. Ia duduk dengan teman-temannya membicarakan masalah itu. Secara hati-hati diajukan alasan-alasan bagi pelarian dirinya. Dengan sikap hati-hati yang sama, Socrates meneliti alasan-alasan tersebut dan mengajukan alasan-alasan yang lain yang tidak menyetujui ia melarikan diri.
            Akhirnya, teman-temannya sepakat bahwa tidaklah tepat bagi Socrates untuk melarikan diri. Pada saat itulah pembicaraan kefisaatan berakhir, Socrates bertindak. Tindakan didasarkan atas pemikirannya, tetapi tindakan itu tidak merupakan bagian pemikiran tersebut, Socrates tetap tinggal di penjara, dan iapun akhirnya minum racun ! (Louis O. Kattsoff, 1996: 4)
            Kisah diatas merupakan contoh berfilsafat, yaitu ketika Socrates mendayagunakan akalnya untuk berfikir secara jernih, mendalam, dan luas. Berani mengajukan argumentasi, menganalisis dan mengkritisi kebenaran. Dalam mencari kebenaran Socrates berani meragukan segala sesuatu, mengajukan pertanyaan, mencari jawaban yang lebih baik dari pandangan pertama yang diajukan oleh teman-temannya. Walaupun sebenarnya dirinya itu tidak seharusnya di hukum. Dengan kegiatan kefilsafatan yaitu melalui pemikiran dan permenungan Socrates mendapatkan suatu kebijaksanaan.
            Salah satu karakter paling menonjol dari para filosof yang menjadi ciri kajian filsafat kesediaan mereka untuk menguji dan mengkritisi kepercayaan, kebenaran dan nilai-nilai yang oleh orang lain diterima begitu saja sebagai yang pasti benar. Mereka tidak ragu menguji dasar dan argumentasi dari kepercayaan mereka, baik dalam ranah sosial, budaya, politik maupun, agama. (Fahruddin Faiz, 2018: xiii) Jalan yang diambil oleh para filosof mendobrak kenyamanan untuk memperoleh kebenaran yang bersifat dinamis.
            Filsafat dikenal sebagai kajian terhadap problem-problem dasar dan umum, seperti realitas, eksistensi, pengetahuan, nilai, akal, pikiran, bahasa, dan sebagaimya. Pembeda filsafat dengan disiplin lain adalah cara filsafat dalam mendekati problem-problemnya melalui jalur kritis, sistematis, dan berlandaskan argumen-argumen rasional. Pengembaraan intelektual yang dipromosikan filsafat itu bersifat membebaskan, menghindarkan seseorang dari prasangka, ketertipuan, kekeliruan, dan sebagainya. (Fahruddin Faiz, 2018: 4)
            Lalu kesimpulannya, apa itu filsafat? Sekedar kajian kritis dan rasional saja? Mohammad Hatta, dalam bukunya Alam Pikiran Yunani, mengemukakan bahwa pengertian filsafat itu tidak usah dibicarakan karena apabila seseorang telah banyak membaca atau mempelajari filsafat, orang itu dengan sendirinya akan mengerti apa yang dimaksud dengan filsafat. Masih menurut Hatta, lebih mudah untuk menyebut karakter berpikir filososfis daripada dibingungkan oleh definisi filsafat yang dirumuskan berbeda-beda oleh para filosof. Karakter yang dimaksud adalah merentangkan pikiran hingga sejauh-jauhnya tentang suatu keadaan atau hal yang nyata. (Fahruddin Faiz, 2018: 5)
            Fahruddin Faiz, dalam bukunya Sebelum Filsafat, juga mengemukakan bahwa, siapapun yang berfilsafat akan melakukan refleksi rasional dan radikal terhadap hidup dan kehidupannya. Ia pasti akan memahami apa itu filsafat dan apa yang dimaksud dengan kata “filsafat”, meskipun tanpa harus merumuskannya dalam rentetan kata-kata. Berpikir, berrefleksi, dan merenunglah! Pahami hidupmu dan ujilah pengetahuan serta keyakinanmu! Maka, kamu akan mengerti apa itu “filsafat” karena sebenarnya aktivitas-aktivitas itulah yang disebut sebagai “berfilsafat”. (Fahruddin Faiz, 2018: 5).

Penulis : Fajar Afwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar